Wow! Itu yang pertama kali terlontar dalam benak saya saat sampai di kawasan bromo. Wow indahnya, wow juga dinginnya.
Udara bromo sedang dingin-dinginnya. Kata orang, di musim kemarau udara bromo malah dingin. Di musim dingin, relatif lebih hangat meskipun masih juga terasa dinginnya.
Hotel tempat kami menginap, secara bangunan kurang menarik. dinding dari anyaman bambu (gedhek kalau org jawa bilang), pintu yang tidak bisa ditutup kalau tidak dikunci (ini sih memang sudah rusak, bukan sengaja dibuat begitu), dan spring bed "biasa" ukuran besar.
Tapi semua keraguan tentang hotel itu terbayar saat melihat ke sekeliling. Menatap lurus ke depan, ada gunung-gunung yang mengelilingi lautan pasir yang terhampar berada tepat di bawah kami. Kalau tinggal di "suite", viewnya langsung pemandangan yang menakjubkan itu plus bintang-bintang di langit saat malam. Tidak salah kalau banyak bule yang memilih hotel bertarif relatif murah ini untuk tinggal.
Berbalut jaket tebal kami pun segera beranjak untuk melihat2 di sekitar hotel. Jeprat-jepret berkejar-kejaran dengan matahari yang mulai terbenam dan udara yang semakin dingin, menusuk tulang. Sarung tangan dan kerpus yang dibeli dari penjaja di sekitar hotel mulai dipasang (saya beli kerpus 10000 rupiah, 15 menit kemudian teman saya beli 6000 saja, ugh). Kami tak bisa berbuat apa-apa lagi selain makan dan ngobrol. Bakso menjadi makanan wajib saat berada di pegunungan, ampuh untuk menghangatkan badan dan mengisi perut yang tiba-tiba terasa kosong.
Jalan-jalan malam juga tidak ada gunanya. Gelap, hampir tidak ada lampu jalan. Sebagian besar cahaya datang dari balik tirai rumah-rumah penduduk dan kendaraan yang sesekali melintas. Tidak ada pemandangan. Hanya sayup-sayup terdengar puji-pujian masyarakat tengger dari pura dekat hotel, bikin merinding. Tidak ada yg bisa kami nikmati malam hari di bromo. Nonton euro 2008? lupakan saja. Tak ada tv di kamar hotel (sebelumnya saya sempat melihat tv hitam putih dari salah satu rumah yang pintunya terbuka, masih ada juga ya...). Tidur awal adalah keputusan tepat mengingat besok kami harus bangun sepagi mungkin untuk melihat matahari terbit.
Kami menyewa "guide" untuk mengantar ke sisi bromo yang lain. Sang guide yang masyarakat tengger, menawarkan pemandangan yang berbeda. Dari tempat itu kami bisa melihat pasir berbisik, sabana, dan gunung semeru yang berkali-kali batuk. Bagus juga, daripada ke penanjakan seperti yang sudah-sudah. Berjalan menyusuri jalan setapak di pinggir tebing dalam kegelapan pagi, mendebarkan tapi seru. Apalagi, di seberang sana mentari mulai menebar pesona, mewarnai langit dengan jingganya.
Berkali-kali kami berpapasan dengan masyarakat sekitar, pria dan wanita yang mengangkut rumput, kayu atau arang dipunggungnya. Herannya sebagian dari mereka orang-orang yang sudah berumur. Saya sempat menyapa seorang pria dibalas angguk dan senyum ramah, bergumam dalam bahasa jawa yang sulit saya mengerti. Teman saya mencoba memotret seorang wanita, bukannya dapat senyuman malah dapat omelan.
Tak terasa lebih dari 4 jam kami berjalan dan mengagumi indahnya warna-warni alam. Foto sana foto sini (ambil foto ke arah mana saja pasti dapatnya bagus) sampai memory card habis. Saatnya kembali ke hotel untuk sarapan dan pulang.
Ingin mengulang menikmati keindahan bromo, tapi tidak untuk mengulang dinginnya.